Khotbah Minggu 16 Juni 2013

Khotbah Minggu 16 Juni 2013

Minggu IV Setelah Pentakosta

DOSAMU TELAH DIAMPUNI

(Luk 7:36-8:3)

Bacaan lainnya menurut Leksionari: 1 Raj 21:1-10, (11-14), 15-21a;Mzm 32; Gal 2:15-21 - Berdasarkan http://lectionary.library.vanderbilt.edu/index.php

(Sebagian ayat-ayat dalam nats ini dapat dipakai sebagai nats pembimbing, berita anugerah dan petunjuk hidup baru)

Ayat selengkapnya: 7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." 7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." 7:41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" 7:43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." 7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." 7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni. 8:1 Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, 8:2 dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, 8:3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

-------------------------------

Pendahuluan

Dalam pasal 7:1-17 kitab Lukas mengkontraskan kisah iman perwira orang yang bukan Yahudi dengan perempuan orang Yahudi yang lemah, maka kisah minggu ini Lukas menekankan adanya kontras antara orang Farisi dengan wanita berdosa. Kisah ini juga bisa dibandingkan dengan Yoh 12:1-8 ketika Maria mengurapi Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal (band. Mrk 14:3-9). Kalau dalam nats Yoh 12:1-8 yang kita baca pada Minggu 17 Maret 2013 yang lalu ayat-ayatnya lebih menekankan tentang “memberi kepada Tuhan” dalam kisah tersebut, maka dalam bacaan minggu ini yang lebih ditekankan adalah tentang sikap penyesalan, pengampunan dosa dan perbuatan baik.

Dari bacaan minggu ini kita diberikan pencerahan oleh Tuhan Yesus sebagai berikut.

Pertama: Kesadaran akan dosa (ayat 36-38)

Secara umum dapat dikatakan bahwa semua orang mengetahui akan dosa, meski kadang dalam pengertian sempit dan terbatas. Artinya, ada yang merasa melakukan sesuatu perbuatan tertentu itu tidak berdosa, misalnya berbohong untuk alasan khusus, padahal menurut Alkitab itu jelas perbuatan berdosa. Demikian juga ada orang yang dengan mudah bersumpah, padahal itu jelas dilarang oleh Alkitab. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa berdosa itu tidak hanya karena perbuatan yang menyakiti hati Allah dan sesama manusia, melainkan juga karena kita tidak melakukan sesuatu perbuatan baik yang kita tahu dan mampu, maka itu juga adalah dosa (Yak 4:17).

Kadang kala juga orang berfikir bahwa melakukan perbuatan tertentu seperti berbohong itu hanya “dosa kecil”. Atau dia berpikir bahwa hidupnya biasa-biasa dan wajar-wajar saja, sehingga dosanya tidak terlalu besar, dan melalui perbuatan baiknya yang banyak, maka dosanya akan impas. Dalam hal ini mereka tidak memahami apa itu dosa dan apa itu pengampunan. Mereka tidak mengetahui dampak dosa adalah kematian selama-lamanya dan akibatnya tidak menghargai pengampunan. Oleh karena itu, kadang kala hanya mereka yang benar-benar menyadari dosanya besar yang dapat menghargai kebaikan pengampunan Tuhan. Demikianlah yang terjadi pada wanita dalam nats bacaan kita minggu ini.

Walau Lukas tidak menuliskan detailnya dan menyebutkan ia terkenal berdosa, maka dugaannya ia adalah pelacur. Ia menyadari dosanya yang besar dan mulai menyadari bahwa perbuatan dosanya pasti akan membawa sesuatu yang sangat buruk bagi hidupnya kelak. Ia berpikir harus bebas dari semua itu. Ia mungkin sudah mendengar bahwa Yesus adalah Mesias dan melalui Dia dosanya dapat diampuni. Atau mungkin ia sudah mendengar akan perbuatan kasih Tuhan Yesus. Maka ketika ia mendengar bahwa Yesus datang ke rumah seorang Farisi, maka ia berinisiatif untuk menemui Yesus. Ia mengandalkan Yesus dan untuk itu ia bersedia tersungkur di kaki Yesus, menangis tersedu hingga airmatanya membasahi kaki Yesus. Ia juga menyeka kaki Yesus dengan rambutnya dan menciumnya, serta memberi minyak yang mahal pada kaki itu. Menangis seringkali merupakan ungkapan kesedihan dan penyesalan kepada Yesus, meski bisa juga merupakan ungkapan kasih dan pengharapan. Apakah kita juga sudah menyadari dosa-dosa kita dan akibatnya kelak (dan kini) bagi hidup kita dan anak-anak kita? Sudahkah kita datang tersungkur ke kaki Tuhan Yesus karena dosa-dosa kita itu?

Kedua: penyesalan dan pengampunan (ayat 39-43)

Ada dua pendapat berbeda tentang pendorong datangnya seseorang kepada Tuhan untuk memohon pengampunan. Salah satu di antaranya adalah adanya respon positip akan kesadaran dan penyesalan dosa dari diri sendiri. Tetapi kita juga tidak dapat mengabaikan peran aktif Roh Kudus yang menyadarkan akan dosa dan dampak dosa itu. Maka kedua kemungkinan ini saling berinteraksi simultan tanpa mudah memilah dan memisahkannya, yang mana terlebih dahulu terjadinya. Ada kalanya Allah yang berinisiatif sendiri, atau bahkan ada juga karena mendengar doa dari pihak lain, apakah itu kerabat, sahabat atau hamba Tuhan agar Allah mengasihinya.

Demikian juga kaitannya dengan iman dan rasa syukur. Pertanyaannya, apakah iman yang mendahului penyesalan atau iman datang setelah pengampunan? Meski banyak pendapat yang mengatakan ada urutan proses, tetapi sebenarnya itu hanya proses penyederhanaan atau simplikasi saja, sebab manusia tidak akan pernah tahu proses interaksi di dalam hati seseorang, khususnya dalam campur tangan Allah pada diri orang tersebut. Urutan itu tidak bisa dibuat secara kaku seperti kesadaran orang tersebutlah terlebih dahulu, baru kemudian pertobatan dan penyesalan, lantas ada pengampunan, kemudian iman, dan seterusnya. Demikian juga tentang kasih, karena kasih kepada Allah yang mendahului baru kemudian Allah mengasihi seseorang. Hal ini baiknya tidak perlu dipersoalkan, apalagi diperdebatkan. Kasih Allah yang dinyatakan dalam 1Yoh 4:10 lebih bersifat universal, tidak spesifik kepada seseorang, sementara pertobatan dan pengampunan lebih bersifat hubungan personal dengan Allah (band. Mat 24:40; Luk 17:34-36). Namun ayat 41-43 yang kit abaca menekankan bahwa pengampunan Allah merupakan kunci, dan dari pengampunan respon manusia berupa kasih.

Hal yang perlu ditekankan dalam ayat 39-43 ini adalah ketika ada kesadaran akan dosa (baik itu kecil atau besar, kesadaran itu dari diri sendiri atau oleh Roh Kudus), maka yang utama adalah harus timbul penyesalan yang dalam, bahwa kita telah melakukan kejahatan terhadap Tuhan. Ada timbul rasa sedih dan berduka mengapa kita melakukannya, sementara itu bukanlah kehendak Tuhan bahkan membecinya. Misalnya, mengapa kita harus menyakiti orang lain, kalau kita sebenarnya bisa dengan mudah untuk menyenangkan hatinya. Dengan dasar penyesalan dan rasa sedih itulah kita harusnya menangis, datang mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kita kepada Allah. Ekspresi tangisan itu yang sangat dihargai sebagai persembahan hati yang hancur kepada-Nya (2 Raj 20:5; Mzm 39:13; Kis 20:19, 31; 2Kor 2:4). Kristus sendiri mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis (Ibr 5:7). Walaupun ratap tangis dapat juga merupakan rasa syukur atas pertolongan yang telah diberikan oleh-Nya, akan tetapi yang terjadi pada perempuan berdosa ini adalah penyesalan, dan kemudian Allah memberi pengampunan kepadanya (ayat 47-48).

Ketiga: perbuatan baik dan pengampunan (ayat 44-48)

Dalam pelayanan-Nya, Yesus banyak diundang untuk makan di rumah-rumah penduduk (5:29; 7:36; 14:1; 19:5). Simon, orang Farisi dalam kisah ini, juga mengundang Yesus, meski tidak jelas maksud dan tujuan undangannya. Mungkin Simon ingin mengenal Yesus lebih dekat, setelah mendengar pelayanan Tuhan Yesus tentang berita keselamatan dan perbuatan mukjizat-Nya. Namun Simon tidak punya sopan santun, sampai Yesus “menegur” sebab Simon tidak menyediakan air untuk pencuci kaki tamu yang datang, sebagaimana tradisi waktu itu. Ini jelas sangat tidak hormat. Bahkan mungkin Simon juga tidak melakukan cium pipi sebagai salam hormat kepada tamunya (Rm 16:16; 1Kor 16:20; 1 Tes 5:26). Dari sini tampak ada kemunafikan, mungkin Simon mengundang Yesus hanya untuk meninggikan dirinya sendiri, melecehkan, merasa ia tidak layak melayani Yesus.

Yesus lantaas memberi contoh pengampunan kepada Simon, Setelah sefaham dengan Simon akan “nilai” pengampunan dari contoh tersebut, Tuhan Yesus berkata sesuatu yang unik, yakni, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Pernyataan ini perlu dicermati, sebab dapat menimbulkan tafsiran yang keliru, bahwa perbuatan baik yang menghasilkan pengampunan. Alkitab berkata bahwa pengampunan dan keselamatan adalah anugerah dan bukan karena usaha atau prestasi manusia (Ef 2:8). Tuhan Yesus mengatakan demikian kepada Simon setelah melihat penyesalan yang dalam dari perempuan berdosa itu, kemudian penyesalan itu diikuti oleh perbuatan baik yakni ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya dan meminyaki dengan yang mahal. Jadi bukan karena perbuatan baik perempuan itu yang utama, melainkan karena penyesalan dan tangisan yang penuh air mata wanita itu. Dengan demikian, jangan kita berkesimpulan bahwa pengampunan diberikan karena didahului oleh perbuatan baik.

Demikian juga pernyataan Yesus, “Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih" harus dicermati agar tidak timbul pemikiran bahwa mereka yang berbuat kasih sedikit maka pengampunan yang diberikan juga sedikit. Alkitab berkata bahwa ketika kita diampuni dan diselamatkan, maka kita sudah dibeli dan ditebus, serta harganya telah lunas dibayar (1Kor 6:20; 7:23). Hal itu berarti bahwa penebusan dan pengampunan bersifat total, bukan bertahap, sedikit demi sedikit. Tetapi yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah, manusia kurang menghargai pengampunan yang diberikan, tidak menempatkan penebusan dirinya dari dosa dan maut sebagai harga yang mahal yakni darah Tuhan Yesus (1Pet 1:19), dan karena itu mereka menganggap enteng dan merasa tidak perlu melakukan kebaikan yang besar atas penebusan itu. Mereka yang merasa bahwa penebusan dan pengampunan oleh darah Yesus sebagai harga yang mahal, maka ia pasti merasa bahwa dirinya telah berhutang banyak kepada Tuhan Yesus, dan karena itu sewajarnya ia melakukan kasih dan kebaikan yang besar untuk memuliakan Tuhan Yesus. Inilah pesan utamanya dan itulah yang harus kita lakukan.

Keempat: pengampunan dan melayani Allah (8:1-3)

Banyak yang menyadari arti pengampunan itu dan hal itu berbuahkan kasih dan kebaikan, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Ayat 8:1-3 dalam bacaan kita menceritakan tentang kesadaran tersebut pada beberapa wanita, dan karenanya mereka mendukung pelayanan Tuhan Yesus, yakni melayani Tuhan dan para murid dengan kekayaannya. Mereka menjadi donator. Hal ini disebabkan dalam tradisi Yahudi, kaum wanita sangat tidak mungkin belajar dari para guru atau rabi dan ikut Yesus berkeliling memberitakan keselamatan bagi semua orang.

Sebagian besar perempuan-perempuan ini telah menerima pelayanan dan kebaikan dari Tuhan Yesus. Oleh karena itu mereka bersedia mendukung pelayanan dengan cara memberi sumbangan secara tetap. Pekabaran Injil dan pelayanan kasih memerlukan biaya yang tidak sedikit. Meski Rasul Paulus memberi nasehat dan keteladanan bahwa tiap hamba Tuhan lebih baik bekerja dengan tangan mereka untuk kehidupan sehari-hari, namun Paulus juga menerima banyak dukungan untuk pelayanannya, sehingga pelayanannya menjadi lebih efektip. Apa yang dilakukan oleh para wanita ini, kiranya terus menjadi teladan bagi setiap perempuan yang percaya kepada-Nya. Alkitab juga berkata bahwa kita harus memuliakan Dia dengan harta dan kekayaan yang kita miliki (Ams 3:9; band Ezr 1:6).

Tidak semua orang dipanggil untuk melayani Tuhan secara langsung. Tuhan memberi keragaman talenta dan karunia rohani untuk semua orang untuk bisa berpartisipasi dalam pelayanan kepada-Nya. Tidak ada penilaian khusus dan pengutamaan, apakah pelayanan itu langsung atau tidak langsung, sebab semua dari hati dan iman. Yang lebih utama, timbulnya kasih yang sesungguhnya kepada Yesus itu datang dari kesadaran yang dalam akan keberdosaan kita, membawa kita kepada kasih yang sejati dengan menghargai darah dan nyawa-Nya di kayu salib. Ketika kita memiliki keyakinan batin bahwa kita telah diampuni dan diselamatkan, maka seyogianya keselamatan itu yang menjadi harta paling utama dimiliki, dan harta lainnya akan menjadi faktor kedua atau ketiga (band. Kisah mencari mutiara dalam Mat 13:44-46). Kasih dan iman yang didasarkan pada landasan ini pasti akan menghasilkan kesetiaan yang kuat dan terus bertahan.

Kesimpulan

Minggu ini Tuhan Yesus melalui Lukas memberikan contoh bagaimana kesadaran dan tanggapan kita terhadap dosa, serta bagaimana kita bersikap kepada Tuhan melalui penyesalan yang dalam. Kasih Allah yang memang berlimpah itu akan menyirami kita dengan pengampunan dan pengampunan itu tidak bertahap dan sepotong-sepotong, melainkan dengan harga yang lunas telah dibayar melalui darah dan nyawa-Nya di bukit Golgota. Kesadaran dan penyesalan yang dalam itu harus diikuti dengan perbuatan kasih kepada-Nya dengan menganggap pengampunan dan penyesalan itu adalah di atas segalanya dan untuk itu kita siap mendukung pelayanan Tuhan Yesus melalui hamba-hamba-Nya. Tanpa buah dukungan yang besar itu, maka mungkin penyesalan dan apresiasi kita terhadap pengampunan perlu dipertanyakan.

Tuhan Yesus memberkati.

(Pdt. Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min – Wasekum Badan Pengurus Sinode GKSI. Catatan bagi hamba Tuhan yang akan menyampaikan Firman, akan lebih baik jika pada setiap bagian uraian diusahakan ada contoh/ilustrasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan juga diselingi humor yang relevan).

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 26 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini920
mod_vvisit_counterKemarin1009
mod_vvisit_counterMinggu ini19416
mod_vvisit_counterMinggu lalu68440
mod_vvisit_counterBulan ini251309
mod_vvisit_counterBulan lalu294387
mod_vvisit_counterKeseluruhan1763670

We have: 8 guests, 6 bots online
IP anda: 54.242.112.71
 , 
Hari ini: Jul 25, 2014