Khotbah Minggu 17 Februari 2013

Khotbah Minggu 17 Pebruari 2013

Minggu I Pra-Paskah

MENANG MELAWAN PENCOBAAN IBLIS

(Luk 4:1-13)

Bacaan lainnya menurut Leksionari: Ul 26:1-11; Mzm 91:1-2, 9-16;Rm 10:8b-13  

Berdasarkan http://lectionary.library.vanderbilt.edu/index.php

(Sebagian ayat-ayat dalam nats ini dapat dipakai sebagai nats pembimbing,

berita anugerah dan petunjuk hidup baru)

----------------------------------------------------------------------------------------------

"Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja" (Luk 4:4)

Pendahuluan

Nats minggu ini masuk ke dalam tema pra-paskah yakni masa sebelum Tuhan Yesus mengalami penderitaan yang sudah dinubuatkan-Nya. Sebelum semua itu terjadi dan bahkan sebelum Tuhan Yesus masuk ke dalam pelayanan-Nya yang singkat itu, Tuhan Yesus terlebih dahulu diuji dan dicobai oleh iblis sebagaimana dalam nats yang kita baca dan renungkan pada minggu ini.

Kisah pencobaan ini terjadi setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes yang meneguhkan dari langit melalui suara yang berkata: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Pencobaan ini diawali dengan kemampuan Tuhan Yesus melewati puasa yang sangat panjang yakni tidak makan selama 40 hari di tengah padang gurun yang terpencil dari sekitarnya. Akan tetapi Yesus yang sejak semula telah penuh Roh, dapat mengatasi semua itu dengan kemenangan.

Nats ini memberikan pengajaran kepada kita beberapa hal yakni sebagai berikut.


Pertama: Manusia hidup bukan dari roti saja (ayat 3-4) 

Hal yang sangat mudah dibayangkan ketika seseorang tidak makan selama 40 hari, maka yang terjadi adalah pasti lapar berat!!! Maka tawaran pertama dari iblis kepada Yesus adalah agar Dia merubah batu menjadi roti, yang sangat dibutuhkan oleh Tuhan Yesus saat itu, tentu sangat menggoda. Iblis mengetahui dan juga Yesus sudah menyadari kedudukan-Nya sebagai Anak Allah sehingga sebenarnya Ia memiliki kuasa untuk merubah batu tersebut menjadi roti. Namun, Yesus tidak menuruti permintaan iblis tersebut dengan tiga alasan: Pertama, Ia menyadari mengikuti permintaan iblis akan masuk dalam jebakan Iblis. Kedua, Yesus tidak mementingkan dirinya sendiri, sebab apa yang perlu dan terbaik bagi diri-Nya adalah sesuai dengan kehendak Allah. Apalagi untuk makanan, Yesus memiliki prinsip: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Ketiga, Yesus juga menyadari bahwa saat itu sebenarnya belum tiba waktunya untuk memperlihatkan kuasa-Nya, sebagaimana Ia menyampaikan tatkala ibu-Nya meminta untuk menyelesaikan masalah anggur yang habis di Kana.

Hal yang juga penting untuk diperhatikan ketika Yesus menjawab iblis, Ia menggunakan firman Tuhan sebagai dasar: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja" (Ul 8:3).  Artinya, hanya kekuatan dari firman Tuhan dan iman yang menyertainya yang mampu mengalahkan iblis dengan godaannya. Godaan iblis selalu tidak tanggung-tanggung, sesuatu yang sangat dibutuhkan seseorang dan bahkan kadang kala tidak ada pengganti, sehingga yang diperlukan hanyalah keteguhan iman dan kesabaran. Yesus sudah tidak makan 40 hari dan berada di padang gurun yang jauh dari kehidupan sekitar, sehingga tidak mudah mendapatkan roti dan makanan. Tetapi Yesus berhasil menguasai diri-Nya dan tidak jatuh dalam jebakan dan godaan iblis dengan kekuatan firman dari Bapa-Nya serta iman yang teguh bahwa Allah memberikan lebih baik lagi pada saatnya nanti.

Demikian jugalah kiranya kita dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin kita sering masuk dalam kondisi yang seolah-olah sangat-sangat-sangat membutuhkan, yakni ketika kita lapar, ketika kehabisan uang, ketika membutuhkan kasih sayang, ketika merasa tidak sembuh-sembuh dari penyakit, maka iblis akan dengan agresif menawarkan pilihan yang lebih mudah dan cepat, bahkan mengiming-imingi dengan perasaan tidak perlu merasa berdosa, sehingga seseorang akan jatuh dalam kuasanya. Ketika kita memiliki perasaan “butuh” akan sesuatu dan seolah-olah mendesak, maka haruslah kita ingat bahwa Tuhan mengkondisikan demikian dengan maksud agar kita lolos dan menang dari ujian “kebutuhan” tersebut dengan memegang firman Tuhan yang mengatakan: Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Mat 5:6).

Kedua: Hanya kepada Allah sajalah kita menyembah (ayat 5-8)

Tawaran kedua iblis kepada Yesus juga tidak tanggung-tanggung, yakni menyerahkan kerajaan dunia berikut segala kuasa serta kemuliaannya, yang akan diberikan kepada Yesus dengan satu syarat: Dia menyembah iblis. Alasan iblis sangat masuk akal, sebab “kerajaan dunia” ini telah diserahkan kepadanya dan iblis berhak memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya, untuk menjadi miliknya.  Jelas itu tawaran yang sangat menggoda dan tidak “susah” untuk mewujudkannya cukup dengan menyembah iblis.

Tetapi sekali lagi Yesus menjawab dengan firman Tuhan dari Ulangan 6:13: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (ayat 8).  Adapun yang dimaksud Tuhan Yesus adalah tidak mungkin Dia menyembah iblis walau tawarannya demikian menggiurkan, sebab Ia datang sebagai Utusan Bapa untuk menguasai “kerajaan dunia” tetapi hanya kepada Bapa di sorga saja Ia akan menyembah. Yesus sangat mengandalkan dan tergantung kepada Bapa-Nya. Selain itu, kerajaan Yesus bukanlah kerajaan fisik dengan kemegahan duniawinya, melainkan kerajaan Yesus adalah kerajaan rohani yang bersemayam di dalam hati setiap orang percaya. Itulah tujuan utamanya, sasaran akhir dari misi Yesus datang ke dunia ini.

Demikian jugalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada beberapa orang mungkin berburu jabatan dalam karirnya dengan mengorbankan integritas bahkan imannya. Mereka mengambil jalan kompromi dengan menyuap atasan atau pihak mediator lainnya untuk sebuah kedudukan atau jabatan. Bahkan ada pula yang bersedia mengganti imannya dengan melepaskan keselamatan dari Yesus demi mendapatkan peluang jabatan di kantornya. Mereka lebih berorientasi pada masa kini, kekinian dibanding dengan ketaatan kepada integitas dan khususnya iman yang memberikan kehidupan kekal. Mereka sering lupa bahwa memburu kesuksesan dan perkara-perkara duniawi di luar jalan dan kehendak Allah justru akan menimbulkan kekecewaan dan ujung-ujungnya berakhir dengan kegagalan.

Yesus tidak memilih jalan yang mudah dengan menerima kuasa dunia ini dari iblis dan dengan demikian Ia akan memiliki banyak pengikut yang terkagum-kagum pada-Nya. Ia tetap taat dan percaya bahwa jalan-Nya bukanlah jalan itu melainkan melalui jalan penderitaan. Demikianlah juga kita, firman Tuhan menekankan bahwa kita harus mencari dan mengutamakan dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita (Mat 6:33). Kerajaan Allah dalam hidup kita berarti menempatkan kuasa dan pemerintahan Allah di dalam setiap langkah dan pilihan hidup kita tanpa kompromi dengan iblis dan dunia ini. Kita terus belajar menghindari jalan “mudah” yang tidak berkenan kepada Allah dalam mencapai keinginan kita.

Ketiga: Janganlah mencobai Tuhan (ayat 9-12)

Seringkali orang berfikir bahwa Allah itu tidak lagi mencampuri urusan dunia ini bahkan mencampuri kehidupan pribadi orang-seorang. Banyak orang berfikir bahwa semua sudah diatur dalam hukum alam sehingga semua harus berjalan sesuai dengan hukum alam tersebut yang dapat dijelaskan dan dicerna dengan akal pikiran manusia. Oleh karena itu mungkin kita sering mendengar perkataan: “Coba saja, apakah Tuhan bisa merubah daun-daun ini menjadi uang?” Atau juga pikiran-pikiran aneh yang muncul, seperti seorang pernah bertanya: Apakah Tuhan dapat menciptakan batu yang sangat besar sehingga Ia sendiri tidak dapat mengangkatnya?

Pikiran seperti itu jelas merendahkan kuasa Tuhan dalam kehidupan ini. Allah tidak memerlukan sensasi untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Demikian juga yang diharapkan iblis dalam nats ini, agar Yesus memperlihatkan sensasi dengan melompat dari ketinggian dan dengan janji Tuhan, Ia takkan jatuh tergeletak melainkan malaikat-malaikat sorgawi akan menatangnya. Iblis memanipulasi firman Allah (Mzm 91:11-12) sebagaimana iblis memanipulasi Hawa di Taman Eden. Sensasi itulah yang diminta iblis, dengan tujuan bahwa apabila Yesus mengikutinya maka jalan sensasi itu akan memudahkan Ia mendapatkan banyak pengikut dan percaya kepada-Nya. Tetapi Yesus mengutip Ulangan 6:16 yang mengatakan: “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Kita hidup dari firman Allah dan harus berpegang pada firman tersebut. Kehadiran dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita tidak harus melalui sensasi dan mukjijat yang kasat mata bagi orang lain. Kehadiran dan pertolongan Tuhan bagi kita harus dirasakan melalui hati dan iman yang tampak melalui mata rohani. Mukjijat telah diberikan melalui kehidupan di dunia ini dan penebusan atas segala kesalahan dan dosa yang kita lakukan, sehingga akhir hidup kita bukan neraka melainkan sorga kekekalan. Itu sudah mukjijat paling besar dalam hidup kita. Itu yang harus kita syukuri sehingga tidak perlu percaya dan masuk jebakan iblis untuk mengandalkan kekuatan lain dalam memperjuangkan hidup ini. Percaya kepada Allah dan tergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Keempat: Iblis selalu menunggu waktu yang baik (ayat 13) 

Hal yang paling penting kita perlu sadari adalah ayat terakhir ini bahwa iblis takluk dalam menguji Yesus, tetapi dikatakan: ia mundur dan menunggu waktu yang baik. Artinya iblis tidak pernah menyerah. Iblis yang disebut sebagai “penguasa dunia” (Yoh 12:31; 14:30; 16:11) ini akan terus menerus menawarkan dan menggoda kita orang percaya untuk mau mengikuti dan tunduk kepadanya. Iblis dengan kepintarannya menawarkan kepada kita justru pada saat kita merasa membutuhkan, kepepet, terdesak tanpa pilihan, sehingga kita mudah jatuh terikat kepada tawarannya.

Akan tetapi Allah tidak membiarkan kita sendirian dalam melawan godaan dan tawaran itu. Allah memberikan firman-Nya yang dapat kita pakai sebagai tameng perisai dalam melawan serangan tersebut, sebagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis di padang gurun tersebut. Firman yang diberikan Tuhan kepada kita bukan sekedar kata-kata, melainkan firman yang memiliki kuasa melalui kesadaran dan urapan dari Roh yang bekerja dalam diri kita. Jadi tatkala kita lemah, tatkala kita rentan mudah jatuh, maka ingatlah firman Tuhan yang menjadi sumber kekuatan kita. Iblis akan terus menerus mencoba membuat keraguan akan kuasa Allah dalam hidup kita. Sebab, timbulnya benih keraguan akan kuasa Allah merupakan titik lemah bagi serangan iblis untuk menundukkan kita. Iblis pintar menggunakan dan melihat titik lemah tersebut.

Kita perlu membangun iman yang lebih kokoh dalam ketergantungan dan mengandalkan hidup kita kepada Tuhan Yesus. Iman yang kokoh berarti tidak goyang sedikit pun tatkala ada ujian atau cobaan hidup baik dalam keadaan susah maupun dalam tawaran godaan oleh kegelimangan dunia ini. Sikap ketergantungan dan pengandalan berarti kita sadar dan menjiwai bahwa apapun yang kita peroleh saat ini adalah merupakan yang terbaik dari Tuhan, dan apabila kita memerlukan sesuatu yang lebih “baik” maka Tuhan mempunyai waktu dan cara yang terbaik untuk kita, sepanjang kita bertekun dalam doa dan usaha yang sesuai dengan jalan dan petunjuk Tuhan melalui firman-Nya.

Kesimpulan

Dalam hal umum adakalanya ketiga godaan iblis kepada Tuhan Yesus dalam nats minggu ini disamakan dengan godaan tiga TA dalam kehidupan sehari-hari, yakni harTa, tahTA dan waniTa. Harta mewakili roti dalam kebutuhan hidup, tahta mewakili cobaan kedudukan atau jabatan, dan wanita mewakili sensasi kenikmatan atau pujian-pujian duniawi yang kosong. Tetapi nats minggu ini memberikan pelajaran yang berharga bagi hidup kita yakni keteladanan Tuhan Yesus dalam mengalahkan iblis dengan segala godaannya. Semua itu terjadi karena Yesus menggunakan firman sebagai tameng perisai dalam melawan godaan tersebut, sekaligus memperlihatkan bahwa sikap percaya kepada Allah haruslah diikuti dengan taat kepada kehendak-Nya. Ketaatan tersebut akan lahir melalui kecintaan untuk belajar dan mengingat firman Tuhan yang selalu kita gunakan dalam melawan iblis. Inilah pelajaran yang diberikan kepada kita dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan ini, sehingga kita tetap sebagai pemenang.

Tuhan Yesus Memberkati.


(Pdt. Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min – Wasekum Badan Pengurus Sinode GKSI. Catatan bagi hamba Tuhan yang akan menyampaikan Firman, akan lebih baik jika pada setiap bagian uraian diusahakan ada contoh/ilustrasi dalam kehidupan nyata dan juga ada selingan humor).

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 57 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini730
mod_vvisit_counterKemarin5980
mod_vvisit_counterMinggu ini730
mod_vvisit_counterMinggu lalu39198
mod_vvisit_counterBulan ini100034
mod_vvisit_counterBulan lalu91209
mod_vvisit_counterKeseluruhan1061584

We have: 3 guests, 28 bots online
IP anda: 50.17.162.174
 , 
Hari ini: Apr 20, 2014