Khotbah Minggu 9 September 2012

Khotbah Minggu 9 September 2012

Minggu Kelimabelas Setelah Pentakosta

“MENJADI BERKAT DENGAN HATI”

Lukas 10 : 25-37

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang

di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

I Samuel 16:7

PENDAHULUAN

Setiap orang percaya yang sudah memiliki Yesus dalam hidupnya memiliki kewajiban untuk melayani/ menjadi berkat. Sering kita jumpai, banyak orang melayani/ berusaha menjadi berkat tapi bukan dengan hati, melainkan dengan jabatan, struktur organisasi, untuk mengaktualisasi-kan diri atau karena ikut-ikutan. Sebagai contoh kita lihat kehidupan para imam dan orang Lewi. Mereka adalah orang-orang yang dalam jabatan sangat terpandang, bahkan sering mengaktualisasikan diri di depan umum, tetapi apakah mereka melayani dengan hati? Rupanya tidak. Mereka tidak memiliki belas kasihan terhadap orang yang mengalami kesulitan (ayat 31).


Bagaimana supaya kita dapat melayani dan menjadi berkat dengan hati? Ada 3 hal yang akan kita pelajari dari kehidupan orang Samaria yang murah hati agar kita juga dapat menjadi berkat dengan hati. 

Pertama: Dasar menjadi berkat dengan hati. 

Hati kita menunjukkan diri kita yang sesungguhnya yaitu keadaan sebenarnya kita, bukan keadaan kita menurut pikiran orang lain. Hati kita menentukan mengapa kita mengatakan hal-hal yang kita katakan, mengapa kita merasakan seperti yang kita rasakan dan mengapa kita bertindak seperti apa yang kita lakukan.  

Orang Samaria memberikan contoh bagaimana melayani dengan hati. Dia bukanlah seorang imam dan juga bukan keturunan Lewi, akan tetapi saat melihat keadaan orang yang menderita, hatinya tergerak oleh belas kasihan (ayat 33). Inilah formula yang biasanya dipakai oleh Tuhan Yesus (Mat. 9:36; 14:14; 15:32; 20:34; Mark. 1:41; 6:34; 8:2 dst) yaitu hati yang memiliki belas kasihan. Jadi, dasar menjadi berkat dengan hati artinya memiliki hati seperti hati Yesus dan tentunya memiliki hati seperti hati Yesus hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki Yesus secara pribadi dan terus bergaul karib dengan DIA.

Kedua: Ciri menjadi berkat dengan hati

1. Peduli berarti memperhatikan, mengindahkan dengan sungguh-sungguh, merasa ikut bertanggung jawab. Orang Samaria peduli terhadap orang lain. Ia tidak tahan melihat orang lain menderita, karena dia telah memiliki hati Yesus. Melihat orang yang ada dalam keadaan setengah mati (ay. 30), ia tidak meneruskan perjalanan seperti yang dilakukan oleh orang Lewi dan imam. Ia langsung mengambil tindakan menolong. Inilah bentuk kepeduliannya.

2. Berkorban.  Tidak hanya peduli. Orang Samaria ini juga mau berkorban untuk menolong orang yang kesusahan  tersebut. Ada tindakan nyata sebagai bentuk kepeduliannya. Ia menyirami luka orang tersebut dengan minyak dan anggur, kemudian membalut lukanya, menaikkan ke atas keledai tunggangannya dan membawa ke tempat penginapan, bahkan merawatnya. Hal ini mau ia lakukan terhadap orang yang tidak dikenalnya.

3. Bertanggung jawab. Peduli, berkorban tapi juga bertanggung jawab untuk apa yang dilakukannya hingga selesai. Orang Samaria sungguh-sungguh bertanggung jawab untuk orang tersebut bahkan untuk seluruh kebutuhannya. “Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali” (ay. 35).

Orang yang melayani dengan hati tidak hanya peduli, rela berkorban dan bertanggung jawab tetapi juga: Pertama, antusias dari kata en dan theos (dalam Tuhan).  Artinya melakukan segala sesuatu tanpa harus dimotivasi, ditantang atau dicek. Tidak membutuhkan tepuk tangan atau penghargaan ataupun bayaran. Penuh semangat/minat yang sangat besar. Orang yang tidak melakukan sesuatu dengan tulus, akan cepat putus asa. Kedua, efektif. Agar supaya efektif maka layanilah Allah dengan cara mengekspresikan hati kita. Pikirkanlah beban apa yang Allah berikan untuk kita dan lakukanlah itu bagi kemuliaan-Nya, bukan untuk mencari keuntungan bagi diri kita.

Ketiga: Akibat menjadi berkat dengan hati.

Orang yang menjadi berkat dengan hati, akan menjadi kebanggan Tuhan. Dalam teks pembacaan ini, Yesus memerintahkan kepada alhi Taurat untuk melakukan seperti apa yang orang Samaria lakukan.

Selain menjadi kebanggan Tuhan, kita juga menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidup. Mengapa? Karena kita akan terus melayani dengan antusias dan efektif sehingga tentunya hasilnya akan baik dan Nama Tuhan  dimuliakan karena motivasi orang yang melayani dengan hati adalah untuk kemuliaan Nama Tuhan.

Milikilah hati seperti hati Yesus yaitu hati yang penuh belas kasihan, bukan hanya kepada orang-orang yang menderita secara jasmani, tetapi juga kepada orang-orang yang sedang berjalan menuju kebinasaan sehingga kita terus termotivasi untuk menjadi berkat dengan hati, banyak orang mengenal Tuhan dan Nama-Nya dimuliakan, Amin.

APLIKASI

Yesus selalu mendasari pelayanan-Nya dengan hati (belas kasihan), dan itu yang seharusnya dilakukan setiap orang percaya. Pelayanan yang dilakukan atas dasar hati (contoh orang samaria) pasti dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, sehingga mendatangkan berkat bagi orang lain juga untuk dirinya sendiri. Marilah kita sebagai orang percaya senantiasa melakukan pelayanan kita dengan segenap hati, sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

Soli Deo Gloria

(Pdt. Nuh Ruku, M.Th – Anggota Badan Pertimbangan BPS GKSI)

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3

Pengunjung Online

We have 196 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1011
mod_vvisit_counterKemarin7711
mod_vvisit_counterMinggu ini27250
mod_vvisit_counterMinggu lalu32686
mod_vvisit_counterBulan ini1011
mod_vvisit_counterBulan lalu265254
mod_vvisit_counterKeseluruhan1791745

We have: 10 guests, 89 bots online
IP anda: 54.80.180.41
 , 
Hari ini: Aug 01, 2014